Ramadan di Negeri Beton

Ramadan di Negeri Beton
Oleh Obi Bisa

Meski tinggal di negeri Beton yang identik dengan nonmuslim, bagi kami, BMI (Buruh Migran Indonesia), suasana Ramadan selalu istimewa. Saat bulan suci,aku justru menjadi pembohong dan seperti pencuri.

Saat itu, bos menyatakan larangan berpuasa di bulan Ramadan dan aku terpaksa harus menandatangani perjanjian yang dibuat. Namun, tentu saja larangan itu aku langgar.Diam-diam aku menjalankan puasa. Ah, bukankah aku melakukannya demi kebaikkan? Toh, mereka tidak tahu dan tidak memeriksa kapan aku berpuasa.

“¹Cece, kita makan siang di luar, yuk!” ucapbos perempuanku. Sudah menjadi kebiasaan setiap Sabtu kami makan siang di luar.

“Enggak usah,²Taitai! Aku makan di rumah aja,” balasku cuek sambil membereskan kamar mandi.

“Kenapa Cece enggak mau? Kita mau makan sushi, lo!” ³Saelou menambahi.Dia yang paling peduli dan dekat denganku.

“Enggak mau, kamu aja ama ⁴Koko.” Jawabanku tetap sama.

“Saelou,dia takut dikerjain kita lagi,” ujar sang kakak.

Aku manyun, pura-pura kesal mengingat kejadian saat makan sushi yang penuh wasabi beberapa waktu yang lalu.

“Kami janji enggak akan ngerjain lagi, Cece,” tukas si kecil dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.

Aku tersenyum, mengusap rambutnya dengan lembut. Bocah yang telah aku rawat dari bayi merah dan kini sudah duduk di bangku kelas dua SD itu menatapku penuh harap.

“Sudah, keluar sana! Cece makan di rumah aja.”

Aku berucap seraya menyodorkan sepatu agarSaelou segera berlalu dan tidak terus merajuk.

Setelah mereka keluar, aku menarik napas lega. Maafin Cece, Saelou. Aku bermonolog.

Saat sahur, aku mengendap-mengendap layaknya maling yang takut ketahuan si empunya rumah. Pelan-pelan aku keluar dari kamar—yang menjadi satu dengan kamar kedua anak asuhku. Tanpa berani menyalakan lampu, aku menikmati sahur seorang diri dalam sunyi dan temaram.

Sahabat yang riuh di aplikasi WhatsApp menjadi penyemangat. Kami saling berganti membangunkan sahur meski banyak yang hanya memakan roti dan air putih untuk sahur.

Libur Minggu di bulan puasa pun sedikit berbeda. Selama puasa, aku lebih betah di dalam masjid Wan Chai.Selain banyaknya kegiatan selama puasa, tahun puasa Ramadan di Hong Kong selalu bertepatan dengan musim panas. Suhu bisa mencapai tiga puluhan lebih. Sementara itu, di masjid di lengkapi AC sehingga suasana lebih sejuk.
Setiap Ramadan, Masjid Aamar Wan Chai selalu menyediakan buka bersama gratis. Kurma menjadi pembuka pertama sebelum menunaikan salat Magrib.

“Mbak Nurma, entar buka di masjidenggak?”Salah satu teman ngaji bertanya.

“Sebenarnya, aku pengin banget, soalnya belum pernah,” jawabku dengan nada sedikit kecewa.

“Memang kenapa? Kan, bisa bilang ke bos kalau mau buka bersama di sini. Bukankah Mbak Nurma sudah lama ikut bos?” Wanita yang bernama Isroatin itu mencecar dengan pertanyaan.

“Justru itu masalahnya.Selama ini mereka melarangku puasa.Katanya, takut aku pingsan,” jawabku dengan senyum kecut.

“Oh.Tapi, kok, Mbak masih puasa juga?” tukasnya masih penasaran.

“Karena puasa Ramadan itu wajib meski aku harus berbohong dan diam-diam melakukannya. Aku yakin, aku tidak akan pingsan gara-gara puasa. Semoga Allah mengampuni kebohongan yang satu ini,” ucapku lirih.

Setiap puasa Ramadan di negeri Beton, selalu menjadi kenangan tersendiri. Kesyahduannya berbeda, antar keindahan beribadah memenuhi panggilan suci dan kepatuhan seorang pekerja terhadap majikannya.

Kini, setiap Ramadan tiba, aku selalu bersyukur karena tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Tidak perlu takut saat menyalakan lampu saat sahur. Namun, ada sesuatu yang hilang yang tak bisa terganti, kebersamaan sahabat dalam temali persaudaraan dan perjuangan sebagai kaum minoritas.

Catatan kaki:
1: Mbak
2: Nyonya
3: Adik laki-laki
4: Kakak laki-laki

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *